Fakta dan Mitos Lifestyle

Menurut Penelitian, Rasa Benci Pada Mantan yang Dulunya Begitu Dicintai Adalah Hal yang Normal, Ini Alasannya

DenpasarViral.com - istimewa

DenpasarViral.com, Denpasar – Cara kerja perasaan bisa begitu misterius. Seseorang yang dulunya begitu kita cintai bisa jadi orang yang paling kita benci.

Timbul rasa benci pada mantan itu ternyata hal yang normal. Ada penelitian menarik yang membahas hal ini. Dilansir dari inc.com, sebuah penelitian terbaru dari Wellcome Laboratory of Neurobology meneliti para relawan yang memendam rasa benci pada seseorang, kebanyakan pada mantan kekasih sebagian lain pada saingan dan figur politik terkenal. Para relawan itu kemudian dipindai otaknya.

Para peneliti menganalisis aktivitas saraf pada para partisipan saat mereka memandang foto dari orang yang paling mereka benci tersebut. Hasilnya cukup mengejutkan. Para peneliti menemukan bahwa lingkaran rasa benci dipengaruhi oleh dua bagian otak yang ada pada sub-korteks: putamen dan insula. Putamen adalah bagian pada otak yang berkaitan dengan fungsi sistem motorik juga perasaan menghina dan jijik. Insula diketahui ikut memengaruhi respon untuk menekan stimuli.

Menurut ahli neurologi dan kepala penelitian, Profesor Semi Zeki menjelaskan, “Jaringannya melibatkan area puteman dan insula yang hampir mirip dengan jaringan yang aktif saat ada gairah, perasaan romantis, dan cinta.” Dengan kata lain, jaringan di otak yang memengaruhi rasa benci sama dengan jaringan yang memengaruhi rasa cinta.

Meski rasa cinta dan benci ini bagai dua kutub yang berlawanan, tapi secara fisiologis keduanya saling berkaitan. Saat seseorang yang menatap orang yang dibencinya, ketika otaknya dipindai akan menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil korteks serebral yang nonaktif. Tapi ketika mereka menatap orang yang dicintainya, sebagian besar area korteks serebal yang nonaktif. Hal ini juga yang menjelaskan kenapa saat kita sudah jatuh cinta pada seseorang, kita akan sangat mudah kehilangan akal sehat.

Saat kekasih sudah jadi mantan, kita bisa sangat membencinya karena jadi lebih kritis dalam menilai sosoknya. Kita jadi mencari-cari kekurangan yang dimilikinya. Pudarnya rasa cinta membuat kita jadi lebih kritis dalam menilainya sebab sebagian besar area korteks serebral pada otak kita akan kembali aktif. Kekurangan pada dirinya yang tadinya tak pernah kita anggap ada jadi kita cari-cari lagi.

Rasa cinta bisa jadi benci. Begitu pula dengan rasa benci juga bisa jadi cinta. Kondisi tersebut pun sangat dipengaruhi oleh cara dan fungsi otak kita bekerja. Tapi kalaupun membenci seseorang, jangan terlalu lama memendam rasa benci itu, ya. (DH/WS/DV).

Artikel asli

Related posts

Cantengan Gara-Gara Salah Potong Kuku? Ini 5 Cara Mudah Mengatasinya!

admin

Enak dan Mudah Dibuat, Cobain Resep Kroket Ragout Ayam Berikut Ini Yuk!

admin

Presiden Tekankan Pentingnya Peningkatan Ekspor dan Investasi dalam Pertumbuhan Ekonomi

admin